Get Social With Us
Digital Marketing – Influencer Marketing, Kenapa Micro Influencer? | BIG In Digital
20423
post-template-default,single,single-post,postid-20423,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,vertical_menu_enabled,select-theme-ver-3.5,wpb-js-composer js-comp-ver-5.0.1,vc_responsive

Digital Marketing – Influencer Marketing, Kenapa Micro Influencer?

Kalian pasti pernah membeli sesuatu karena rekomendasi atau ulasan dari kerabat? Tidak bisa dipungkiri bahwa saran dari seseorang yang menjadi panutan dapat meningkatkan kepercayaan akan membeli sesuatu. Konsep seperti ini dikenal dengan influencer marketing. Influencer marketing dalam konteks digital marketing merupakan salah satu cara pemasaran dimana menggunakan orang-orang yang memiliki base followers atau audience yang cukup besar di Social media dan dinilai memiliki pengaruh kuat terhadap apa yang mereka jalankan.

Sebenarnya siapa sih influencer itu? Influencer bisa jadi artis, selebgram, vlogger, youtuber, blogger, dan sebagainya. Influencer dinilai dapat menginspirasi atau mempengaruhi followersnya seperti apa yang mereka gunakan, apa yang mereka lakukan, dan sebagainya. Influencer marketing merupakan media promosi yang efektif karena dengan cara ini pemasar bisa memasarkan produknya kepada orang yang lebih spesifik dan tertarget (based on what they do, and their followers).

Influencer ternyata ada beberapa jenis. Mega Influencer, Macro dan Micro Influencer. Jenis ini dibedakan dari segi job dan based followersnya. Kalau mega influencer biasa kita kenal sosoknya sebagai Public Figure atau selebritis, Untuk macro  biasanya merupakan expertise pada bidangnya, seperti make up artist, atau personal trainee.  Micro influencer sendiri biasanya merupakan regular customer. Nah, yang kali ini akan kita bahas adalah mengenai Micro Influencer.

Kenapa menggunakan micro influencer yang basis followersnya lebih kecil dibandingkan dua jenis lainnya?

 

Micro-influencers memiliki engagement rates dan target audience yang lebih baik.

 

Riset dari Markerly memaparkan bahwa semakin bertambahnya followers atau audience di sebuah akun instagram, jumlah engagementnya akan berkurang. Selain itu, micro influencer memiliki audience yang lebih spesifik dan tertarget.

Salah satu contoh kasusnya: sebuah brand sepatu olahraga menggunakan selebriti dengan followers jutaan. selebriti tersebut bisa menjangkau audience yang sangat banyak, namun tidak semua audiencenya tertarik akan produk sepatu olahraga. Sebaliknya, dinilai akan lebih efektif jika brand tersebut bekerja sama dengan beberapa atlet atau personal trainee dengan audience yang ribuan.

 

Micro-Influencer memiliki rate yang terjangkau dan dinilai lebih Orisinil.

 

Micro-Influencer memiliki rate harga yang lebih murah dibandingkan dengan selebriti atau public figure. Mereka juga mengelola akun social medianya sendiri sehingga konten dari social media mereka menggambarkan personality dan daily mereka masing-masing. Sehingga jika mereka mempromosikan sesuatu dengan konten orisinil mereka dinilai bisa lebih dapat dipercaya

 

Apakah kalian tertarik bekerja sama dengan micro-influencer?

 

Perlu diperhatikan, ada beberapa kelemahan pada strategi penggunaan micro-influencer. Strategi ini bekerja baik pada brand-brand yang produknya dapat digambarkan dengan visual seperti alat-alat memasak atau pakaian. Jika kamu memiliki jasa/aplikasi yang ingin dipromosikan, nampaknya harus di “krafting” kembali visual yang sesuai.

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.